Guest
karburator Vakum vs Konvensional
« on: September 23, 2013, 01:21:34 AM »
Pahami Perbedaan Karakter Karbu Vakum Dan Konvensional

“Gue pilih karburator vakum,” ungkap Dodi, sementara temannya, Irfan bersikeras menggunakan karbu manual. “Lebih enak!” kelitnya.  Nah, seperti apa sih, kedua karburator itu? Apalagi sekarang sudah banyak yang mengaplikasi alat pengabut vakum sebagai peranti standar.

Keuntungannya apa? “Karburator vakum bisa menyesuaikan suplai bahan bakar dan udara dengan kebutuhan kinerja mesin,” ungkap Sutrisno dari Jawa Motor.  Maksudnya, suplai bensin dan udara akan menyesuaikan dengan gerak piston alias daya sedot mesin ketika sedang bekerja.Jadi, skepnya akan bergerak naik tidak hanya mengandalkan putaran grip akselerator saja. Bisa saja putaran grip dipelintir habis, skepnya tetap akan terangkat bertahap, sesuai putaran mesinnya.

Berbeda dengan karburator manual, throttle akan terbuka sesuai putaran grip gas, jadi bahan bakar dan udara akan tersalurkan sesuai bukaan tersebut. Meski, kebutuhan dalam ruang bakar belum memerlukannya, otomatis bahan bakar terbakar lebih banyak sehingga motor menjadi lebih boros. Akibatnya piston menjadi cepat kotor dan menimbulkan kerak di mesin.

Itulah sebabnya karburator vakum lebih irit dibandingkan dengan karburator manual. Tetapi, semua ada kelebihan kekurangannya tentu. Urusan akselerasi, pastinya karburator manual akan sedikit lebih responsif terhadap mesin ketimbang vakum yang hanya mengandalkan isapan dari piston untuk pergerakan skepnya.

“kelemahan karbu vakum ini, adalah pada membran karet vakum atau vacuum diapraghmanya “Ini memang untuk jangka waktu cukup lama, misal 3 tahun, tetapi pasti akan terjadi,” ujar Tris, setiap komponen pasti memiliki batas usia pakai, elastisitas bahan karet berkurang seiring dengan usia penggunaan.  Karena dipakai cukup lama,  membran atau vacuum diapraghma ini akan aus, bisa saja ada bagian yang sobek, meski kecil, atau juga membrannya melebar dari ukurannya. Kalau sobek, biasanya diganti dengan yang baru.Karburator vakum ini sangat bergantung pada kevakuman ruang bakar alias kekosongan udara agar bisa responsif terhadap isapan piston dari ruang bakar. Nah, hal ini berhubungan dengan membran yang ada di atas skep untuk menggerakkan skep itu sendiri.

Lantas soal jarum skep, pada karbu vakum umumnya tak perlu mengubah ketinggian jarum, karena sudah menyatu dengan selongsong skepnya. Sementara karbu manual bisa memilih ketinggian jarum skep untuk menentukan suplai bahan bakar yang diinginkan.Tetapi, soal jetting karburator sih, sama saja. “Enggak ada bedanya, sama karburator manual,” ungkap Tris. begitu pun soal setelan anginnya, sama persis dengan karburator manual. Pembeda utama hanya ada pada membran saja.

Jadi, antara Dodi dan Irfan sebenarnya tak perlu ada permasalahan, hanya tinggal penyesuaian saja. Jika ingin berkendara ekonomis, stabil buat touring dan perjalanan jauh, peduli pada emisi, sebaiknya pilih karburator vakum, sementara bila ingin tarikan sedikit responsif  bisa menggunakan karburator manual seperti pilihan Irfan, tentunya dengan resiko  borosnya bbm yang akan dikonsumsi motor.
Tentunya karakter dan gaya berkendara setiap orang juga menentukan pilihan penggunaan dua piranti penyuplai bahan bakar ini. Wassalam.


Perbedaan mekanisme karburator vakum dan konvensional







sumber